Bangladesh Lockdown Total Mulai Senin (28/6), Warga Berbondong-bondong Tinggalkan Ibukota Dhaka

Warga Dhaka memadati terminal feri Dhaka untuk meninggalkan ibukota Bangladesh itu menuju daerah pedesaan dan kota kota terdekat, Sabtu (26/6). Warga mencoba menghindari lockdown nasional selama satu minggu, dan mulai berlaku Senin (28/6) depan. Jika lockdown total dilakukan, tak seorang pun di Bangladesh diizinkan meninggalkann rumah kecuali ada keadaan darurat.

Lockdown dilakukan setelah lonjakan kasus Covid 19 di negara itu tinggi, banyak yang terkait dengan varian Delta yang pertama kali diidentifikasi di negara tetangga India. Gelombang virus terbaru di Bangladesh dimulai sekitar enam minggu lalu. Pada 15 Mei, ada 261 kasus baru dan 22 kematian yang dilaporkan. Namun pada Jumat (25/6), ada 5.869 kasus baru dan 108 kematian. Jumlah kematian ini adalah kematian harian tertinggi kedua di negara itu selama pandemic Covid 19.

Banyak rumah sakit kewalahan menampung dan mencoba menyelamatkan pasien, terutama rumah sakit yang berada di perbatasan dengan India. Karena peningkatan kasus yang tajam, pemerintah setempat telah menghentikan layanan kereta api dan bus, dengan pengecualian untuk layanan darurat. Warga yang berharap meninggalkan kota terpaksa menyewa kendaraan pribadi, atau bahkan berjalan kaki, karena transportasi dihentikan.

Sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Departemen Informasi Pers Bangladesh (PID) mengatakan semua kantor, termasuk kantor pemerintah, semi pemerintah dan swasta, juga akan ditutup. Editor BBC Asia Selatan Jill McGivering melaporkan bahwa pekerja berpenghasilan rendah dan pekerja harian akan menjadi salah satu yang paling terpukul oleh lockdown ketat ini. Juru bicara departemen kesehatan Robed Amin mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa polisi dan penjaga perbatasan akan dikerahkan untuk menegakkan penguncian dan menghentikan orang meninggalkan rumah mereka.

Dia menambahkan bahwa tentara juga dapat dikerahkan jika diperlukan. "Ini adalah situasi yang berbahaya dan mengkhawatirkan," katanya. "Jika kita tidak menahannya sekarang, kita akan menghadapi situasi seperti India,” katanya. Gelombang kedua infeksi Covid, sebagian besar didorong oleh varian Delta, menghancurkan India pada bulan April dan Mei.

Meskipun negara itu mulai dibuka kembali, para ahli telah memperingatkan bahwa akan terjadi gelombang ketiga dalam beberapa bulan ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.