Tumbuh Bersama dan Setara dengan Idolanya, Komunitas BTS ARMY Wujudkan Aktivisme Fandom

Pada bulan Juni tahun 2013, Bangtan Sonyeondan atau BTS memulai debutnya sebagai boyband asal Korea Selatan, di bawah naungan Big Hit Entertainment. Pada tanggal 9 Juli 2013, satu bulan setelah debut BTS, mereka meresmikan nama ARMY sebagai panggilan untuk para penggemarnya. ARMY terus berkembang sampai saat ini secara jumlah maupun gerakan sebagai sebuah komunitas yang besar di seluruh dunia.

Salah satu komunitas itu adalah BTS ARMY Help Center Indonesia. BTS ARMY Help Center Indonesia merayakan hari jadi ARMY pada 10 Juli 2021 lalu dengan mengadakan diskusi dengan Dr. Lee Jiyoung, seorang profesor filosofi dan penulis buku BTS, Art Revolution. Lee Jiyoungmengangkat topik aktivisme dan gerakan ARMY, serta dampak sosial mereka yang begitu besar.

Sejak awal dibentuk, ARMY secara konsisten bergerak sebagai kelompok filantropi dan aktivis yang menyumbangkan banyak energi dan pikiran untuk perubahan sosial. Lewat analisisnya, Dr. Lee Jiyoung melihat gerakan ARMY dengan konsep revolusi Rhizoma atau rimpang. Revolusi Rhizoma atau rimpang merupakan perkembangan tumbuhan yang menjalar di bawah permukaan tanah serta dapat menghasilkan tunas dan akar baru dari ruas ruasnya yang berkembang.

Seperti revolusi Rhizoma, hubungan ARMY dan BTS tidaklah seperti hubungan idola dan penggemar pada umumnya yang berbentuk struktur hierarkis vertikal. BTS dan ARMY bertumbuh bersama secara horizontal dan setara, tidak ada yang lebih berkuasa. "Pertumbuhan pertama adalah ARMY selalu memperhatikan identitas komunitas. ARMY sebagai kelompok yang berusaha melindungi BTS dari diskriminasi dan perlakuan tidak adil industri kepada mereka," ungkap Lee Jiyoung.

BTS mulai memantapkan diri sebagai Global Superstar di Amerika Serikat dan seluruh dunia pada tahun 2017. Semenjak itu, komunitas ARMY yang mampu bersatu menaikkan posisi BTS di tangga lagu sering dianggap sebagai manipulator. ARMY berhasil mendobrak sistem yang didominasi oleh kekuatan media dan industri yang berkuasa.

Melihat kemampuan ARMY, industri dan media yang berkuasa mulai ketakutan dan waspada terhadap BTS dan ARMY. Akhirnya, serangan ras dan identitas, serta stereotip fandom mulai menjadi senjata bagi mereka yang merasa terancam dengan keberadaan ARMY untuk menyerang komunitas tersebut dan juga BTS sendiri. Namun, serangan kebencian dapat diatasi setiap harinya karena kekompakan BTS dan ARMY membuat mereka saling menjaga.

Gerakan kolektif yang dilakukan ARMY sangat terstruktur. Mereka mahir dalam mengedukasi dan membagi tugas tugas antar penggemar, semua saling dukung dan merespons. Menurut Lee Jiyoung hal tersebut dapat terjadi karena sejarah dan kegiatan ARMY yang memahami potensi politik serta aktivisme. Dapat ditemukan pula relevansi kegiatan ARMY dengan pesan kritis sosial yang disampaikan BTS.

"Dalam buku yang saya tulis, saya menganalisis pesan BTS sebelum periode Love Yourself sebagai 'pembunuhan patriarki sosial' aktivitas BTS dan ARMY sudah memiliki implikasi politik yang cukup ditemukan di mata publik yang berpusat di Amerika Serikat dan Inggris," jelas Lee Jiyoung. Pencapaian BTS dan ARMY digambarkan Lee Jiyoung sebagai "pembunuhan patriarki sosial". BTS dan ARMY percaya bahwa perubahan hanya dapat dilakukan jika kita berani mengubah tatanan yang ada menjadi setara dan tumbuh bersama, seperti konsep Rhizoma tersebut.

"Dalam sistem rimpang atau Rhizoma, apa pun dapat dihubungkan langsung ke tetangganya atau tumbuhan yang tumbuh disampingnya. Rimpang menjadi sistem non sentralisasi,” ungkap Lee Jiyoung. Hubungan ARMY dan BTS menunjukkan sistem rimpang yang tidak terpusat, tidak ada pusat kekuasaan tunggal seperti media atau agensi di sistem ini, di sini idola dan penggemar sama sama tumbuh. ARMY sendiri yang berasal dari kebangsaan, ras, usia, dan pekerjaan yang berbeda, juga merupakan pertumbuhan dari rimpang berbeda yang tak terhitung jumlahnya.

BTS sebagai idola yang biasanya adalah titik pusat, tidak pernah menginstruksikan atau memerintahkan ARMY. ARMY akan bergerak di jaringan yang tidak terpusat, mereka bergerak dan bertumbuh tergantung pada kasus atau situasi sosial politik yang ada di sekitar. Hal tersebut yang membuat aksi pergerakan ARMY disebut sebagai filantropi dan aktivisme, karena kesetaraan yang ada di komunitas mereka memungkinkan tiap anggotanya untuk kembali menengok isu isu yang ada di sekitarnya dan mereka bagikan kepada satu sama lain.

Inilah mengapa kegiatan fangirling yang dilakukan ARMY dinilai sehat dan memberi dampak perubahan yang positif untuk lingkungan sosial. (*) Artikel ini merupakan bagian dari KG Media. Ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.